Oxygen absorber

Posted: Sabtu, 01 November 2008 by smarters06 in Label:
1

Oxygen Absorber/penyerap oksigen adalah AP yang
dikemas dalam bentuk sachet kecil. Berfungsi
untuk mempertahankan kualitas produk pangan dalam
kemasan agar tetap segar seperti saat baru diproduksi,
karena terhindar dari kerusakan yang diakibatkan
oleh oksigen. Umumnya di aplikasikan pada produk
pangan yang mengandung lemak/minyak dan agak lembab.

Mengapa makanan perlu dihindarkan dari oksigen?
Makhluk hidup membutuhkan oksigen untuk hidup dan
berkembang biak. Demikian juga mikroorganisme,
bakteri, jamur, dan serangga (kutu). Dan alasan
lainnya oksigen dapat sebagai pemicu terjadinya
reaksi kimia oksidasi.

Oksigen dalam kemasan adalah musuh utama terhadap
produk yang mengandung lemak/minyak karena oksigen
akan beroksidasi dengan lemak/minyak sehingga
produk pangan menjadi rusak dengan ciri kerusakan
sebagai berikut: basi, tengik, berubah warna,
dan bau menjadi tidak sedap. Dengan mencegah
kontak oksigen dengan produk pangan, kerusakan
tersebut dapat dicegah.

Dengan mengusahakan kemasan yang bebas oksigen,
produk pangan dapat mencapai kondisi sebagai berikut:

Mempertahankan rasa dan kesegaran
Memperpanjang masa kadaluarsa produk
Mengurangi penggunaan zat pengawet atau aditif
sehingga lebih sehat dan aman bagi kesehatan.
Mengurangi kadar garam dan gula sehingga produk
menjadi lebih lezat.
Melindungi produk dari jamur, bakteri aerobik,
serangga dan mikroorganisme.
Mencegah terjadinya oksidasi dari lemak dan minyak
sehingga tidak mengalami perubahan rasa
(menjadi tengik), warna, tekstur, aroma dan
kandungan gizi pada produk pangan.
Mencegah pembusukan dan timbulnya racun.
Oxygen Absorber tidak dapat menangani bakteri anaerobes,
yaitu tipe bakteri yang tidak membutuhkan oksigen
untuk hidup dan berkembang biak. Untuk itu,
kebersihan dari sarana produksi dan bahan baku mutlak
perlu diperhatikan.
Keuntungan menggunakan oxygen absorber bagi produsen
pangan adalah dapat
1) mengurangi tingkat retur/kerusakan produk sehingga
meningkatkan laba, 2) memberi peluang untuk ekspansi
area penjualan karena masa kadaluarsa yang lebih lama,

3) mempermudah dalam perencanaan produksi dan kontrol
inventory,
4) menghasilkan produk dengan kualitas unggulan yang
aman bagi kesehatan, 5) meningkatkan kredibilitas
dari nama produk dan nama produsen, dan
6) mengurangi biaya penggunaan pengawet dan aditif
serta gula/garam.

Oxygen absorber dapat diaplikasikan pada industri
pangan seperti roti dan kue, pastry, cake seperti
kue bulan, lapis legit, kacang dan snack, permen,
kopi dan teh, daging olahan (ham, sosis, daging asap,
dendeng, fried chicken, nugget, seafood, keju dan
produk susu lainnya), sayuran dan buahbuahan kering,
bumbu-bumbu dan rempah-rempah, tepung-tepung dan
penyedap, mi segar dan pasta, farmasi dan vitamin,
herbal tradisional, jamu, ginseng, dan lain-lain.

Keberhasilan penggunaan active packaging perlu
memperhatikan beberapa faktor, antara lain:

1. Untuk menentukan produk AP yang tepat
guna, perlu dicari tahu terlebih dahulu, masalah
kerusakan apa yang dihadapi oleh produk masing-masing.
Sebagai contoh, kue kering yang dioven umumnya akan
mengalami masalah menjadi melempem/ tidak garing.
Keripik yang digoreng akan mengalami bau tengik,
kacang akan mengalami bau tengik, kue lapis legit
akan tengik dan jamuran, teh hijau akan berubah warna.
Beras akan dikutui, dan masih banyak kasus lain
yang dapat diselesaikan jika berhasil menghindarkan
produk pangan dari uap air maupun oksigen.
Setelah mengetahui secara jelas masalah yang dihadapi
masing masing produk, maka akan lebih mudah untuk
menentukan solusi yang tepat. Untuk melempem tentunya
perlu menggunakan desiccant/ penyerap kelembapan,
untuk tengik, berubah warna, jamuran, kita dapat
menggunakan oksigen absorber.

2. Sesuai dengan fungsinya,
AP adalah bagian dari packaging, artinya produk tersebut
harus dikemas secara memadai. Sebagai contoh untuk
menggunakan desiccant, kemasan yang digunakan harus
memiliki fungsi ‘moisture barrier’, untuk menggunakan
oxygen absorber, kemasan yang digunakan harus memiliki
fungsi ‘oxygen barrier’. Hal ini agar udara dari luar
kemasan tidak masuk secara terus menerus sehingga gagal
mencapai kondisi ‘moisture free’ maupun ‘oxygen free’.
3. Pilihlah produk AP yang berkualitas tinggi karena
tidak jarang produk AP yang ada sudah tidak ‘active’
alias expired, sehingga gagal melindungi produk pangan
yang bernilai.

4. Pilihlah suplier AP yang memiliki ‘know how’
dan memahami cara kerja AP secara mendalam. Tidak
jarang penjual bahan AP tidak memahami cara kerja,
sehingga memberikan rekomendasi yang kurang tepat.
Beberapa keuntungan nyata disamping kualitas produk
yang lebih baik dan expired time yang lebih lama,
yang telah dirasakan oleh pengusaha makanan yang telah
menggunakan AP yakni: Nama / brand dari produk akan
’naik kelas’ menjadi lebih baik dan lebih dipercaya
dan di asosiasikan sebagai produk dengan kualitas
yang lebih baik dan lebih sehat. Terhindar dari lembur
berlebihan karena mengejar target produksi untuk
season tertentu seperti Natal, Lebaran, Tahun Baru,
Imlek, dan lain-lain. Sehingga biaya produksi lebih
rendah dan hasil produksi lebih baik. Efisiensi
proses dan alur produksi, jika sebelumnya terpaksa
memiliki beberapa fasilitas produksi di masing masing
kota utama, kini cukup dengan satu fasilitas produksi
sudah bisa mengcover wilayah yang lebih luas sehingga
mempermudah kontrol dan tentunya efisiensi sangat
besar atas biaya. Ekspansi pasar, jika yang sebelumnya
hanya mencakup satu kota/wilayah tertentu, dengan AP
dapat melebarkan sayap usaha ke banyak kota bahkan
hingga diekspor ke manca negara karena ‘waktu expired’
sudah bukan masalah. Omzet yang meningkat tentunya
juga pada akhirnya meningkatkan Laba usaha .

1 komentar:

  1. Ines Nisa says:

    Makasih infonya😊